Monthly Archives: January 2011

MX 357

Setelah mengabdikan dirinya selama 4 tahun 8 bulan, Multifunction Printer Canon Pixma MP800 yang selama ini gue pakai pun akhinya rusak.

Padahal buat gue, MP800 itu masih sangat bagus walau umurnya hampir 5 tahun. Kualitas cetak printer dengan 1pl ink droplet jelas sangat bagus. Kemampuan scanning cepat dan bisa scan film negatif juga menjadikan printer ini salah satu nilai tambah. Apalagi kalau dihitung dengan kemampuan cetak langsung ke CD dan dual tray sehingga bisa ngeprint foto dan amplop tanpa mengeluarkan kertas yang biasa ada di dalam printer.

Minggu lalu printer inipun error di bagian scanner. dan seperti umumnya multifuction printer, satu device rusak berarti semuanya rusak. Artinya walau yang rusak hanya scanner, tetep aja gue ga bisa ngeprint.

Jangankan satu perangkat rusak.. Satu tinta habis saja, printer ini ngambek tidak mau ngeprint. Jadi inget komik lucu theoatmeal tentang Printer yang dikirim dari neraka.

Back to topik,
Akhirnya gue pun memutuskan membeli pengganti printer MP800 yang telah rusak. Emang sih si MP800 ini mau coba masuk service non resmi (karena pengalaman temen yang punya printer serupa harus mengeluarkan 500rb untuk reparasi ngebuat gue sakit perut), tapi karena gue butuh agak cepat otomatis gue pun harus membeli printer baru.

Karena kali ini gue memutuskan untuk low-budget, gue bener-bener mempertimbangkan aspek ‘value’ baik harga maupun performa.

MP800 merupakan printer yang bagus untuk printing dalam jumlah besar karena memiliki jenis ink tank (masing-masing warna punya cartridge/tinta sendiri). Hal yang dulunya gue anggep menghemat uang karena jadi murah, hanya beli tinta yang dibutuhkan saja. Tapi sebagaimana umumnya printer ink jet, apabila tidak dipakai maka lama-kelamaan tintanya akan kering. Harga tinta untuk MP800 pun mulai ajaib, lebih dari 110rb per warna. Sementara si MP800 itu punya 5 tinta (Cyan-Magenta-Yellow-Black – Dye Ink) dan satu cartridge Hitam untuk Pigmen yang harganya mendekati 200rb – bahkan kadang lebih. Artinya, gue bisa mengeluarkan lebih dari 500rb hanya untuk membeli seperangkat tinta yang apabila tidak dipakai akan mengering dengan sendirinya.

Pertimbangan ini yang akhirnya membuat gue mencoret salah satu kandidat printer pengganti MP800 bermerek Brother. Tadinya gue tertarik untuk membeli Brother MFC-J415W. Menurut penuturan om gue yang pake printer bermerek sama tapi beda tipe, harga tintanya hanya 70rb. Sementara kemarin, saat gue memutuskan untuk membeli MX357.. Jangankan mengetahui harganya, untuk mencari tinta printer Brother seri ini (LC-39) saja tidak ada. Konyol sekali beli printer tapi tidak bisa membeli tinta. Bhinneka sebagai salah satu penjual multifunction printer ini juga tidak memajang LC-39 pada list consumable nya.

Kalau temen gue ada yang beli HP OfficeJet 4500n, gue justru memilih MX357 dengan pertimbangan berikut:

  1. Canon MX357 memiliki fitur Wifi yang juga dimiliki MFC-J415W. Kenapa gue anggep penting? karena gue membutuhkan wireless printer/fax/scan sehingga gue bisa menempatkan multifunction printer ini dimanapun. Apabila dibutuhkan, MX357 juga menyediakan port ethernet untuk terhubung ke jaringan kabel.
  2. Canon MX357 bisa cetak foto atau dokumen langsung dari USB flash disk/USB hard drive. Port USB yang ada di depan MX357 lebih bermanfaat karena tidak seperti MP800 yang hanya bisa untuk camera direct printing dan usb bluetooth.
  3. Canon MX357 memiliki kemampuan untuk menyimpan 50 halaman fax di dalam memory internalnya – jadi tidak perlu khawatir apabila tinta atau kertas habis. bahkan bisa menyimpan fax di dalam USB flash drive atau memory card demi menghemat kertas.
  4. Canon MX357 memiliki kemampuan Automatic Document Feeder hingga 30 lembar dalam satu waktu. Gue tes untuk ngescan 30 lembar dokumen hitam putih menjadi 1 file PDF bisa dicapai dalam waktu 3 menit 20 detik.
  5. Canon MX357 memiliki layar 2.5″ untuk melihat foto yang akan di print ataupun untuk operasionalnya. Lebih mudah untuk digunakan.
  6. Cost operasional lebih murah (untuk orang yang jarang ngeprint). Walau harga tinta MX357 (PG-810 Black dan CL-11 Dye Color) itu kalau ditotal mencapai hampir 300rb, tapi apabila jarang digunakan tentu gue akan lebih murah daripada diatas 500rb seperti di MP800 ataupun 400rb (estimasi untuk Brother MFC-J415W).

Bagaimanapun, kalau MX357 dibandingkan dengan MP800 yang pernah gue miliki.. Tetap memiliki kelemahan dan perbedaan:

  1. Kualitas cetaknya dibawah MP800. Jelas, karena MP800 memiliki 1pl ink droplet sehingga hasilnya sangat bagus. Sementara MX357 hanya bisa 2pl ink droplet dan tinta biasa untuk cetak foto.
  2. MX357 tidak bisa scan film negatif
  3. MX357 tidak bisa mencetak langsung ke CD/DVD.

Tapi buat gue, printer Canon MX357 seharga 1,6jt yang gue beli di mangga dua adalah pilihan tepat. Harga yang cukup ekonomis dan kemampuan yang sebanding harganya menjadikan printer ini salah satu nilai lebih.

Semoga printer ini paling tidak bisa berumur 4 tahun lebih seperti MP800 yang gue miliki sebelumnya, ataupun mempunyai nilai pakai yang sebanding dengan harganya.. Amin

6 Comments

Filed under Uncategorized

Android, iOS atau Blackberry?

Belakangan ini pengguna Ponsel android mulai marak, termasuk tablet pesaing ketat iPad seperti Samsung Galaxy Tab dan sebangsanya.

Nah, menyimak perkembangan ini.. Gue pun tertarik untuk nulis pendapat gue mengenai 3 sistem operasi smartphone dan gadgets ini.

Gue sendiri sebenarnya pengen punya Android phone, seperti HTC Nexus One (Google Phone). tapi gue masih sayang banget dengan HTC Touch Pro2 gue. Kenapa? Karena ponsel tua gue ini bisa dual boot Windows Mobile bawaan dengan senseUI ciri khas HTC dan sistem operasi Android (Froyo 2.2) yang running dengan cara menginstall project android pada memory card ponsel.

Dan lagi, gue masih belum tertarik melepas windows mobile dan menggantinya dengan android. Toh urusan oprek dan sebangsanya juga sudah lebih dahulu bisa dilakukan di Windows Mobile. Beda masalah open source atau tidaknya saja.

Lalu dengan keluarnya Samsung Galaxy Tab, apakah gue tertarik? Ho.. Bentar dulu.
Gue tetap menganggap si Galaxy Tab gak cocok untuk menggantikan iPad, karena ukuran kecil justru menyulitkan untuk menggantikan fungsi lembaran dokumen, majalah, sampai multimedia player/viewer.

Kelemahan iPad memang jelas, fitur flash tidak disupport oleh browsernya. Namun untuk streaming video di web bisa dilakukan oleh browser Skyfire, dan daya tahan baterai hingga 11 jam nonstop rasanya sulit untuk dikalahkan gadgets lain.

Bagaimana dengan All-in-One gadgets?
Gue sendiri sebenarnya memang mengharapkan adanya satu gadgets yang bisa melakukan banyak hal sekaligus. Salah satu yang bikin gue sempat terpincut adalah hadirnya iPhone4. Kalau saja ada versi 64GB keatas, mungkin gue akan membeli satu untuk menggantikan iPod Touch4g 64GB gue. Tapi rasanya untuk beli iPhone 64GB pun mungkin masih gue pikir2 lagi karena gue lebih sering menggunakan gadgets itu untuk dimainin oleh ponakan dan orang lain, yang mana kalau dijadikan satu.. Maka gue akan khawatir jika baterenya habis dan gue menjadi tidak bisa berkomunikasi. Belum faktor keamanan seperti jatuh dan sebangsanya.

Saat ini mungkin gue menjadi salah satu orang yang agak repot dengan gadgets bawaan sehingga gue harus menceraikan salah satu ponsel gue untuk disimpan di tas dan digunakan apabila diperlukan. 3 gadgets yang digunakan bersamaan sebenarnya agak merepotkan gue yang sering bertugas keluar kota, yaitu saat pemeriksaan xray di bandara.

So, gue masih tetap menggunakan 3 gadgets utama.. Yaitu:
HTC TouchPro2 sebagai ponsel utama – mostly untuk telepon, sms/mms dan wifi router
Blackberry Bold 9700 sebagai ponsel kedua – mostly untuk e-mail, chat dan social networking
IPod Touch 4g 64GB sebagai alat hiburan – mostly untuk voice recorder saat rapat, video recording HD, dan tentunya games.

Si iPad gue pakai untuk menggantikan basic function of notebook. Untuk kerja serius jelas gue tetap butuh notebook/PC, tapi untuk kerja ringan seperti mengetik dan browsing internet jelas iPad jauh lebih bermanfaat. Ringan, langsung nyala, dan sangat multifungsi. Sayangnya, kapasitas tertinggi 64GB belum bisa menjadikan gadgets ini pilihan terbaik buat gue. Nah kalau sudah begini, apa mungkin gue pindah ke Galaxy Tab? No way…

Walau banyak yang ngeracunin gue untuk beli Galaxy Tab ataupun nantinya Blackberry PlayBook, gue rasa gue masih akan tetap di iPad. Mungkin racun yang paling kuat di tahun 2011 ini justru datangnya dari iPad2.

Gue merasakan enaknya gadget berbasis android, tapi kalau harus mengusung merek mesin cuci, gue males. Gue cuma fanatik dengan smartphone keluaran HTC untuk Windows Mobile atau Android. Toh Google Phone juga ‘nitip’ produknya disana. Yang lain sih boleh aja ikut2 pasang OS Android, tapi gue ga akan pindah dari HTC.

Ah ya, Froyo emang cukup oke untuk android, tapi saat ini gue belum tertarik untuk menggantikan Windows Mobile ke Froyo, mungkin karena ponsel tua gue itu masih belum menggunakan capacitive touchscreen sehingga tidak bisa memaksimalkam fitur froyo. Cuma ya gue masih sayang dengan android marketnya yang belum memiliki kompatibilitas tinggi seperti appstore nya apple. Itu salah satu kenapa gue ga tertarik dengan galaxy tab. Ukurannya nanggung. Kegedean untuk nelepon dan kekecilan untuk ebook reader.

Gue masih menunggu Blackberry PlayBook yang katanya juga akan bersaing di kancah per tabletan di tahun 2011 ini, termasuk notebook dual lcd touchscreen yang mulai marak..

We’ll see….

Sent from my iPad

19 Comments

Filed under Uncategorized